Laktosa berperan sebagai
sumber energi atau kalori yang disebut juga sebagai gula susu. Laktosa berperan
dalam pembentukan mikroflora usus yang diperlukan sebagai penghambat bakteri
yang merugikan (patogen). Produk susu formula rendah laktosa umumnya
diperuntukkan bagi mereka yang mengalami diare atau pemulihan sesudah sakit.
Namun dalam beberapa kasus, ada juga anak yang kondisi pencernaannya memang tak
tahan terhadap laktosa. "Gangguan" ini disebut /lactose intolerance
/atau intoleransi laktosa atau dalam bahasa awamnya lambung yang bersangkutan
tak dapat mencerna susu.
Intoleransi laktosa ini
terjadi karena tidak ada atau minimnya enzim laktase ( /b-Galaktosidase /)
dalam sistem pencernaan si anak. Karena ketidakmampuannya mencerna susu,
tinjanya menjadi berair, berbusa dan berbau asam. Bukan cuma itu. Anak pun
mengeluh perutnya sakit, kembung dan terasa mulas. Itulah mengapa anak dengan
kondisi seperti ini dianjurkan untuk mengonsumsi susu rendah laktosa ( /low
lactose /) atau bebas laktosa ( /free lactose /). Tentu saja sebelum
mengonsumsi susu jenis ini, ada baiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter
anak atau ahli gizi anak untuk memastikan apakah si kecil memang perlu
mengonsumsi susu ini atau tidak.
*SUSU KEDELAI *
Ada dua macam susu
kedelai, yang berbentuk cair dan bubuk. Susu kedelai dipasarkan dalam kondisi
"murni", artinya tanpa tambahan gula. Meski begitu, tak menutup
kemungkinan ditambahkan gula atau penambah cita rasa seperti cokelat, pandan,
stroberi dan sebagainya bila memang diinginkan. Perlu diketahui, untuk
meningkatkan selera anak bisa juga ditambahkan gula sekitar 7 persen saja dari
berat susu tersebut. Jika kadar gula terlalu banyak dari yang dianjurkan akan
menyebabkan anak cepat merasa kenyang.
Susu kedelai sangat baik
dikonsumsi, terutama bagi anak-anak yang alergi susu sapi atau mereka yang
mengalami gangguan di saluran pencernaannya, semisal kekurangan atau tak
memiliki enzim laktase hingga tak mampu mencerna laktosa. Dalam jangka panjang
tak ada efek samping penggunaan susu kedelai ini, selama dikonsumsi dengan
wajar.
Komposisi susu kedelai
hampir sama dengan susu sapi. Lantaran itu, tak berlebihan jika susu kedelai
bisa dijadikan pengganti susu sapi. Setiap 100 g susu kedelai mengandung kalori
41 kkal, protein 3,5 g, lemak 2,5 g, karbohidrat 5 g, kalsium 50 mg, fosfor 45
g, vitamin A 200 SI, vitamin B1 (tiamin) 0,08 mg, dan sebagainya. Secara umum,
susu kedelai juga mengandung Vitamin B 2 , B 2 niasin, piridoksin, dan golongan
Vitamin B yang tinggi. Vitamin lain yang juga terkandung dalam jumlah cukup
banyak adalah Vitamin E dan K.
Jika dikonsumsi secara
rutin susu kedelai dapat memberi tambahan nutrisi karena mengandung vitamin dan
mineral esensial seperti kalsium dan zat besi. Disamping memberi tambahan
energi untuk kegiatan belajar anak. Untuk balita, minum dua gelas susu kedelai
dapat memenuhi 30 persen kebutuhan proteinnya per hari. Susu kedelai yang baik
dan layak konsumsi tentulah harus bebas dari bau dan rasa /langu /kedelai,
mempunyai kestabilan yang mantap, misalnya tak mengendap atau menggumpal.
*SUSU PENAMBAH ENERGI*
Beberapa produsen susu
mengeluarkan produk susu "penambah energi". Kandungan kalori,
protein, dan mineralnya memang lebih tinggi dibandingkan susu formula lainnya.
Alhasil, energi yang masuk ke tubuh anak pun diyakini secara otomatis lebih
tinggi. Selain itu, susu jenis ini memang lebih mudah diserap oleh pencernaan
karena komposisi lemaknya berbentuk MCT ( /Medium Chain Triglycerides /).
Bahkan, susunan asam amino yang terkadung di dalamnya pun tergolong lengkap
untuk melakukan sintesa protein.
Biasanya, susu ini
dikategorikan sebagai menu tambahan atau pelengkap. Namun mengingat kandungan
zat gizinya memang terbilang komplet, susu penambah energi ini boleh dikatakan
sebagai pengganti makanan. Meski demikian bukan berarti anak hanya mengonsumsi
susu ini dan tak perlu lagi menyantap makanan yang lain.
Susu penambah energi
sebaiknya diberikan pada anak yang nafsu makannya tergolong buruk atau rendah.
Namun sekali lagi, alangkah baiknya jika orang tua lebih dulu berkonsultasi
dengan dokter anak atau ahli gizi anak untuk mencari tahu apa penyebab buruknya
nafsu makan si kecil. Apakah karena gangguan medis atau ada faktor psikologis,
semisal bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja maupun suasana makan yang
tidak menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar