- Allah swt. berfirman,
وَمِنْ
ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا
إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ
لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم21(
“Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” Ar
Rum:21
Menikah Bukti Keagungan
Allah
Ayat ini sebenarnya
bagian dari cerita tanda-tanda keagungan Allah swt. dan kekuasaan-Nya. Bahwa
semua yang ada di langit dan di bumi dan segala yang terjadi datang dari-Nya.
Termasuk diciptakannya manusia berpasang-pasangan yang dengannya terjadi
kelanjutan hidup, seperti yang disebutkan pada ayat di atas. Karenanya hakikat
pernikahan dan rumah tangga bagi Allah swt. adalah ikatan yang sangat agung.
Karena dengannya nampak keagungan-Nya.
Sebaliknya, ketika
manusia hidup di alam perzinaan, yang nampak hanyalah kebinatangan. Bila
kebinatangan yang menonjol dalam hidup manusia, kerusakan pasti akan meraja
lela. Paling tidak yang pertama kali hancur adalah kemanusiaan. Manusia tidak
lagi perduli dengan rumah tangga. Bila rumah tangga hancur, garis nasab akan
hilang. Lama ke lamaan manusia tidak tahu lagi siapa sebenarnya yang ia gauli.
Tidak mustahil suatu saat – bahkan ini sudah banyak terjadi – akan lahir
seorang anak dari hubungan ayah dengan anaknya, atau hubungan ibu dengan anaknya,
atau hubungan antara saudara seayah dan sebagainya.
Karena itu pada ayat di
atas, Allah swt. menjadikan hakikat berpasang-pasangan sebagai bukti
keagungan-Nya, supaya manusia tidak begitu mudah merendahkan dirinya dengan
menganggap bahwa berhubungan dengan siapa saja boleh-boleh saja. Tidak,
janganlah sekali-kali perbuatan ini dilakukan. Sebab dengan melakukan perzinaan
seseorang tidak saja mengahancurkan kemanusiaannya sendiri melainkan lebih dari
itu ia telah merendahkan Allah swt. dengan meremehkan tanda-tanda
keagungan-Nya.
Jelasnya bahwa dari
ayat di atas setidaknya ada tiga langkah yang bisa kita bahas secara mendalam
dalam tulisan ini untuk mencapai kebahagiaan dalam rumah tangga:
(a) Bangun Jiwa Sakinah
(b) Hidupkan Semangat
Mawaddah
(c) Pertahankan Spirit
Rahmah.
Dan ketiga langkah ini
adalah bekal utama setiap rumah tangga. Bila salah satunya hilang, rumah tangga
akan rapuh dan mudah retak. Karena itu hendaklah ketiga langkah tersebut
benar-benar dicapai secara maksimal, atau paling tidak mendekatinya.
Allah berfirman: litaskunuu
ilaihaa, artinya agar kau berteduh wahai para suami kepada istrimu.
Katalitaskunuu diambil dari kata sakana
yaskunu artinya
berdiam atau berteduh. Dari kata sakana ini
di ambil istilah sakinah yang
kemudian diartikan tenang. Memang bisa saja kata sakana diartikan tenang,
tetapi pengertian dalam ayat ini lebih dalam lagi dari sekedar tenang.
Syaikh Ibn Asyur dalam
tafsirnya At Tahrir wat Tanwiir mengartikan kata litaskunuu dengan dengan tiga makna:
(1) lita’lafuu artinya agar kamu saling mengikat
hati, seperti uangkapan ta’liiful quluub. Dalam surah Al Anfal:
63 Allah berfirman: wa allafa baina quluubihim (Dialah Allah yang telah mempersatukan
hati di antara mereka). Dengan makna ini maka antara suami istri hendaknya
benar-benar membangun ikatan hati yang kuat. Dan sekuat-kuat pengikat hati
adalah iman. Maka semakin kuat iman seseorang, semakin kuat pula ikatan hatinya
dalam rumah tangganya. Sebaliknya semakin lemah iman seseorang, bisa dipastikan
bahwa rumah tangga tersebut akan rapuh dan mudah retak.
(2) Tamiiluu
ilaihaa artinya kau
condong kepadanya. Condong artinya pikiran, perasaan dan tanggung jawab
tercurah kepadanya. Dengan makna ini maka suami istri bukan sekedar basa-basi
untuk bersenang-senang sejenak. Melainkan benar-benar dibangun di atas tekad
yang kuat untuk membangun masa depan rumah tangga yang bermanfaat. Karenanya
harus ada kecondongan dari masing-masing suami istri. Tanpa kecondongan pasti
akan terjadi keterpaksaan.
Karena itu orang tua jangan
memaksakan kehendaknya jika memang ternyata dalam diri anaknya tidak ada
kecondongan. Saya sering menemukan seorang anak muda mengeluh karena dipaksa
orang tuanya untuk menikah dengan si fulanah. Sementara dalam diri anak muda
tersebut tidak ada kecondongan sama sekali. Tapi orang tuanya mengancam dan
bahkan menganggap ia bukan anaknya jika tidak mengikuti keinginannya.
Ini tentu sikap yang
tidak pada tempatnya. Orang tua harus tahu bahwa sakinah dalam rumah tangga tidak akan di capai
tanpa adanya kecondongan. Pun orang tua harus tahu bahwa yang akan hidup
bersama istrinya adalah sang anak. Maka tidak benar menggunakan kartu merah
orang tua, untuk memaksakan kecondongannya supaya anak mengikutinya.
Seringkali rumah tangga
hancur karena orang tua tidak meperhatikan kecondongan sang anak. Karena itu
untuk membangun sakinah harus ada dalam diri masing-masing suami istri
kecondongan.
(3) Tathma’innuu
biha artinya kau
merasa tenang dengannya.
Dalam surah Ar Ra’d:28
Allah berfirman: alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub (Ingatlah, hanya dengan mengingati
Allah-lah hati menjadi tenteram). Dari sini nampak bahwa untuk mencapai
ketenangan dalam rumah tangga hanya dengan banyak berdzikir kepada Allah.
Para ulama menyebutkan
bahwa dzikir ada tiga dimensi: dzikurullisan (dzikir dengan lidah), dzikrul
qalb (dzikir dengan
hati) maksudnya hatinya selalu sadar dan ingat kepada Allah, dan dzikrul
haal(dzikir dengan perbuatan), maksudnya seluruh perbuatannya
selalu dalam ketaatan kepada Allah swt. Maka sungguh tidak mungkin mencapai
sakinah rumah tangga yang penuh dengan kemaksiatan kepada Allah swt.
Termasuk kemaksiatan
ketika masing-masing suami suka berbohong. Banyak rumah tangga yang retak
karena ketidak jujuran masing-masing suami istri. Bila seorang suami suka
berbohong pasti sang istri akan gelisah. Selanjutnya ketenangan akan hilang
dalam rumah tangga. Sebaliknya bila istri suka berbohong, sang suami pasti
tidak akan merasa tenang bersamanya. Bila suami tidak tenang, bisa jadi kelak
rumah tangga akan terancam. Dari sini perceraian demi perceraian terjadi. Asal
muasalnya karena kebiasaan tidak jujur dan dosa-dosa.
Hidupkan Semangat
Mawaddah
Mawaddah artinya cinta. Imam Hasan Al Bashri mengartikan kata mawaddah sebagai metafor dari hubungan seks.
Jelasnya bahwa mawaddah adalah perasaan cinta dan senang
dengannya rumah tangga menjadi bergairah dan penuh semangat. Tanpa mawaddah rumah tangga akan kering.Mawaddah biasanya sangat personal. Ia tidak
tergantung kepada kecantikan istri atau ketampanan suami. Boleh jadi di mata banyak
orang wanita itu tidak cantik, tetapi sang suami sangat mencintainya. Pun boleh
jadi wanita itu disepakati sebagai wanita cantik, tetapi sang suami ternyata
sangat membencinya.
Sebagian ulama tafsir
mengatakan bahwa cinta biasanya sering menggebu di masa muda atau di awal-awal
pernikahan. Lama ke lamaan setelah masuk dalam rutinitas rumah tangga, getaran
cinta menjadi melemah. Karenanya Allah swt. bekali rahmah sebagai pengimbangnya, supaya ketika
sinyal cinta mulai redup, masih ada semangat rahmah yang
akan menyelamatkan rumah tangga tersebut. Lain halnya dengan orang-orang yang
membangun rumah tangga hanya dengan modal cinta, rumah tangga rentan mudah
roboh dan tidak kokoh.
Ibarat mesin, mawaddah adalah dinamo penggerak yang
mengairahkan. Dengan mawaddah rumah tangga menjadi dinamis dan
produktif. Sebaliknya bila jiwa mawaddah hilang, rumah tangga akan menjadi
monoton tanpa dinamika sama sekali. Dalam penelitian saya minimal ciri mawaddah ada tiga:
(a) Katsratut tahaady
(selalu saling memberi hadiah), karena seperti kata Nabi saw. dengan saling
memberi hadiah cinta akan selalu hangat.
(b) Katsratu dzikrihi
(selalu saling mengingat kebaikannya). Sebab dengan mengingat kebaikannya
seseorang akan selalu merasa berhutang budi. Hindari melihat keburukan dan
kekurangannya, karena itu akan menumbuhkan kebencian dan perselisihan tiada
henti.
(c) Katsratul
ittishaali ma’ahu (selalu saling berkomunikasi) sebab dari kemunikasi akan
hilang prasangka. Banyak hal yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, tetapi
karena lemahnya komunikasi seringkali kesalahpahaman terjadi.
Pertahankan Spirit
Rahmah
Rahmah artinya kasih sayang, diambil dari kata rahima
yarhamu. Dari kata ini pula diambil kata ar
rahmaan salah satu
nama Allah swt. Bahwa Allah Maha Penyayang. Para ahli tafsir mengatakan bahwa
rahman-Nya Allah meliputi seluruh mahluk-Nya: manusia, binatang, dan
mahluk-mahluk lainnya. Termasuk orang-orang yang tidak beriman, karenanya
mereka masih bisa hidup dan bisa menikmati fasilitas kehidupan dari Allah,
padahal mereka setiap hari tidak mentaati-Nya. Katarahmah lebih
bermakna kesungguhan untuk berbuat baik kepada orang lain, apa lagi kepada
keluarga.
Memang setiap orang
mempunyai kekurangan, dan tidak ada seorang pun yang mecapai kesempurnaan. Maka
jika setiap manusia selalu mempersepsikan adanya pasangan yang sempurna, pasti
pada akhirnya ia tidak akan pernah punya pasangan. Dalam pepatah Arab
dikatakan: “Man talaba akhan bilaa ‘aibin laqiya bilaa akhin
(orang yang mencari kawan tanpa cacat, pasti pada akhirnya ia tidak akan punya
kawan).
Kata rahmah lebih mencerminkan sikap saling
memahami kekuarangan masing-masing lalu berusaha untuk saling melengkapi. Sikap rahmah menekankan adanya sikap saling tolong
menolong dalam bersinergi, sehingga kekurangan berubah menjadi kesempurnaan.
Sikap rahmah seringkali
berperan ketika semangat cinta mulai menurun. Biasanya itu terjadi setelah usia
suami istri sama-sama mencapai tahap tua. Cucu sudah mulai banyak. Badan banyak
sakit-sakitan. Pada saat itu kebertahanan rumah tangga sangat ditopang oleh
kekuatan rahmah (kasih
sayang).
Karena itu mawaddah
dan rahmah ibarat dua
sayap bagi burung. Bila kedua sayap itu berfungsi dengan baik, maka rumah
tangga akan berjalan penuh kebahagiaan. Ibarat burung terbang di angkasa, ia
menikmati keindahan alam semesta dan penuh dengan kelapangan dada. Tanpa
sedikit pun ada beban di hatinya. Terbang ke mana saja ia mau, tidak ada
hambatan dan kesulitan.
Kesadaran Akhirat
Pada penutup ayat di
atas Allah swt. berfirman: inna fiidzaalika laayatil liqawmiyyatafakkaruunmaksudnya
bahwa itu semua merupakan bukti bagi orang-orang yang berpikir. Yaitu
orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memahami ajaran Allah swt.
Dalam Al Qur’an banyak
sekali penegasan bahwa kelak di hari Kiamat banyak manusia menyesal karena
selama di dunia tidak menggunakan akalnya. Allah swt. berfirman,
“Dan mereka berkata:
“Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah
kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Al Mulk:10
Dari sini nampak bahwa
yang membedakan antara manusia dan mahluk lainnya adalah karena manusia Allah
bekali akal. Dan di antara ciri orang-orang berakal bahwa ia selalu menegakkan
kedamaian dalam hidupnya terutama minimal dalam rumah tangganya. Maka ketika ia
tidak bisa membangun kedamaian dalam rumah tangganya, bisa dipastikan ia akan
gagal dalam lapangan kehidupan yang lain.
Bila seseorang gagal
dalam rumah tangga otomatis ia menyesal. Menyesal karena telah menyia-nyiakan
kesempatan untuk berbuat baik selama di dunia. Penyesalan itu terjadi kelak
setelah ia tahu bahwa ternyata Allah tidak menyia-nyiakan sekecil apapun yang
dilakukan manusia. Famayya’mal mitsqaal dzarratin khairay yarah wamay
ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan
seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat
(balasan) nya pula.” Qs. Az Zalzalah:7-8.
Kesadaran akhirat
seperti inilah yang harus selalu dicamkan oleh setiap suami istri, karena hanya
dengan kesadaran ini semua prilaku akan menjadi baik dan rumah tangga akan
dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Wallahu’ alam bishshwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar