Sabtu

Cara Mendidik Anak menjadi Penurut

"Bagaimana caranya mendidik anak agar mampu mendengar ucapan orang dewasa?" Ini adalah pertanyaan Aline --seorang members milis sekolah-kehidupan@yahoogroups.com-- ketika saya memposting tulisan berjudul: "[Serial Anak Pahlawan 2]: 7 Hal Penting Mendidik Anak" di milis itu. Memiliki anak yang penurut, memang idaman para ortu. Hanya saja, satu hal yang harus kita pahami, seorang anak, berapapun umurnya, memiliki keinginan tersendiri. Dan keinginan itu sangat berbeda dengan keinginan orang dewasa. Dari sinilah, terjadi perbedaan keinginan antara anak dan orang dewasa. Ini sebenarnya hal yang biasa dan tidak jadi masalah jika kita sebagai orang dewasa mampu meresponnya dengan baik. Namun yang sering terjadi malah kita tanggapi dengan salah: kita tidak mau memahami keinginan sang anak dan memaksa anak untuk ikut keinginan kita. Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah karena orang dewasa tidak memahami tahapan mendidik anak.

Sebelum saya menjawab pertanyaan Aline, alangkah lebih baik jika kita, sekilas mengetahui tujuh tahapan mendidik anak, sekaligus fase perkembangan psikologi manusia, yaitu: 1) fase sebelum lahir (marhalah ma qabla al-wiladah); 2) fase menyusu (marhalah ar-rodho'ah); 3) fase anak-anak (marhalah hadhonah); 4) fase puberitas (at-tamyiz aw ath-thifulah akhir); 5) fase pemuda (al-bulugh wa asy-syabab); 6) fase dewasa (al-asyad wa ar-rasyid); dan fase lanjut usia (asyaikhukhoh) [insya Allah, "7 Fase Pendidikan", akan saya bahas dalam tulisan selanjutnya].

Baik, mari kita jawab pertanyaan Aline. Karena yang diminta oleh Aline adalah pengalaman saya, maka dalam merumuskan kiat-kiat agar anak menuruti kata-kata kita, saya ambil dari pengalaman saya dalam mendidik kedua anak saya. Anak pertama bernama Abdurrahman Vira El-Fatih, saat ini berumur satu tahun sebelas bulan, tanggal 17 Maret 2008 nanti, genap dua tahun. Sedangkan anak yang kedua bernama Fathin Vira Rahima, putri saya ini sekarang berumur tujuh bulan. Berdasarkan pengalaman mendidik dua permata hati saya itu, saya berbagi kiat berikut ini:

# Kiat 1: Ajak Main.

Seorang anak, terutama balita, tatkala ingin mengungkapkan keinginannya, adalah menangis. Makna menangis bagi seorang bagi, tidak tunggal seperti orang dewasa sebagai simbol ketersentuhan hati --baik itu sedih, atau bahagia, melainkan bermakna banyak, bisa jadi tangisan itu untuk memberitahu bahwa ia lapar, kencing, buang air besar, ada binatang (misalnya semut) yang menggigitnya, merasa gerah, dan seterusnya. Manakala ortu tidak memahami bahasa atau simbol perasaan bayi ini, di sinilah terjadi konflik antara anak. Satu sisi bayi menangis karena ingin sesuatu, namun di sisi lain, ortu tidak ingin mendengar tangisan.

Untuk mengetahui makna tangisan itu, hendaknya kita melihat kemungkinan-kemungkinan penyebab anak kita menangis. Lama kelamaan kita akan mengerti dan punya naluri sendiri, apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak kita. Apalagi kalau kita rajin memperhatikan, memikirkan, bahkan mencatat kapan anak kita menangis.

Dalam bulan-bulan awal ketika saya memiliki anak, saya dan isteri saya, mencoba mencatat jam-jam anak kami menangis. Lalu, kami ingat apa yang membuat anak kami berhenti menangis. Misalnya, menangis pukul 08:00 pagi, ternyata setelah kami lihat popoknya, ternyata buang air besar. Atau, pukul 16:00 sore, menangis lagi, ternyata baru diam kalau dikasih susu. Begitu seterusnya, sehingga kami hapal, makna tangisannya. Ini tentu, sangat erat pola kita memberikan susu atau makanan, apakah teratur atau tidak. Kalau teratur, maka kita akan mudah memprediksi kapan anak kita lapar, pipis, buang air, dan seterusnya.

Masalah selanjutnya adalah bagaimana kalau anak kita tiba-tiba menangis, sedang kita sama sekali tidak memahami penyebabnya dan kita ingin anak kita menurut siapa diam? Cara yang mudah adalah ajak anak kita bermain. Bagi seorang anak bermain adalah segalanya. Sebab, bermain adalah dunia bagi mereka. Bermain adalah belajar, bekerja, dan kehidupan anak.

# Kiat 2: Alihkan Perhatiannya.

Apa yang Anda rasakan bila anak membanting-banting HP kesayangan Anda? Atau, memukul-mukul komputer/lap top Anda? Saya kira, siapapun akan marah jika barang kesayangannya ada yang ingin merusaknya.

Begitulah yang terjadi dengan saya. Komputer saya sudah tiga kali ganti power suply, gara-gara komputer sering ia matikan mendadak. Key board tiga kali ganti, karena sering dipukulnya. Hp isteri saya hancur, dibanting anak saya. Dua telpon rumah rusak, karena sering dilempar. Empat Al-Quran kesayangan ia robek-robek. Kamus yg menemani saya dan isteri belajar, udah gak jelas bentuknya. Dan masih banyak lagi barang-barang kami, dirusak oleh anak kesayangan kami.

Apakah saya dan isteri tidak berusaha menyelamatkan benda-benda itu? O tidak! Kami sudah antisifasi semuanya. Tapi, entah dari mana anak saya itu punya ide untuk melakukan sesuatu di luar bayangan kami. Misalnya, untuk mengambil Hp yang kami letak di atas meja, anak saya itu mencari kursi, kardus, atau buku ia tumpuk, supaya bisa menjangkau Hp itu. Atau, keyboard saya tarok di atas monitor, ternyata dengan segala cara, ia bisa naik dan mengambilnya. Begitu seterusnya, anak kami melakukan sesuatu di luar dugaan, bahkan tidak masuk dalam otak kami.

Nah, biasanya, kalau dia sedang asik memainkan benda-benda itu, lalu kita ambil, apalagi kita rebut tanpa kompromi, ia akan menangis. Ini dilema bagi kita, apakah barang kesayangan kita rusak, atau kita biarkan menangis? Tentu saja, keduanya bukan pilihan yang baik. Kita ingin barang kita tidak rusak dan anak kita tidak menangis. Caranya adalah alihkan perhatiannya. Misalnya, ia sedang merusak kamus kita, maka alihkan dengan buku kesayangannya. Ia akan melepaskan barang yang ia pegang, kalau kita menawarkan barang yang lebih menarik baginya.

# Kiat 3: Rayu dan bicara dengan baik-baik.

Untuk anak yang sudah bisa bicara, atau minimal sudah memahami apa yang kita bicarakan, maka solusi ini tentu saja perlu kita coba. Anak saya, hampir 2 tahun itu, baru bisa melafadzkan beberapa kata, tapi ia sudah faham apa yang kami bicarakan. Ia bisa menyebutkan satu persatu anggota tubuhnya. Ia juga sudah mengerti, kalau kami suruh menutup pintu, mengambil kursi, membawakan buku, membuang popoknya, dan seterusnya.

Ketika anak tertua saya merebut mainan atau barang milik adiknya, tempat duduk, sepatu, sendal, bahkan jilbab, maka saya rayu dan bicarakan baik-baik bahwa itu milik adiknya. Lucu memang, anak tertua saya ini laki-laki, tapi ia sering merebut jilbab mungil milik putri saya. Bukan untuk ia mainkan, tapi ia ingin memakainya seperti adik dan bundanya. Biasanya, saya rayu, bahwa itu milik adiknya dan barang itu khusus untuk adiknya yang perempuan. Wallahu a'lam, apakah dia benar-benar faham dengan rayuan saya atau tidaknya, yang jelas acapkali ia mengikuti perkataan saya.

# Kiat 4: Bernegoisasi.

Di dinding ruang tamu, saya tempel dua poster untuk anak saya belajar, satu tentang Al-Arqom (Number), satu lagi tentang Al-Wudhu' (Ablution) dan Ash-Sholah (Prayer). Dua poster ini bergambar dan memakai bahasa Arab-Inggris. Sedangkan di kamar tidur anak saya, saya tempel poster Huruf al-Hijaiyyah al-Mashowwaroh (Huruf Hijaiyah bergambar) berbahasa Arab dan poster My First ABC berbahasa Inggris. Keduanya juga penuh dengan gambar. Saya juga menyediakan buku-buku khusus anak kecil yang bergambar. Nah, inilah media saya untuk mengajari anak-anak saya tentang nama-nama benda, binatang, buah-buahan, dan angka.

Selain itu, saya pergunakan apa saja yang ada di sekitar kami, untuk belajar. Misalnya dinding, kursi, komputer, karpet, buku, sapu, dan seterusnya. Bahkan, kalau saya beli keperluan dapur, saya pergunakan untuk media mengajar. Misalnya, tomat, bawang, cabe, kentang, dst. Untuk awal, hanya belajar mengenal nama-nama benda itu, belum untuk sarana matematika --berhitung: menambah, mengurang, mengalikan, membuat himpunan, distribusi, dst.

Cara saya menguji seberapa jauh daya serap anak saya itu, maka saya sering menanyakan kembali apa yang telah saya ajarkan. Kadang ia mau menuruti permintaan saya, namun lebih sering ia punya keinginan sendiri dan tidak mau memenuhi permintaan saya. Oleh sebab itu saya memikirkan, bagaimana caranya, supaya keinginan saya bisa dipenuhi oleh anak saya?

Tercetuslah ide untuk bernegoisasi. Iya, anak saya dalam beberapa bulan ini, paling suka diajak keluar rumah. Bahkan setiap hari, ia memaksa saya [gimana gak saya bilang maksa, kalau ia menangis supaya saya ganti bajunya, pakaikan sepatu, dan topinya, lalu ia ambil sendal saya dan meminta saya buka pintu, setelah itu ia suruh saya makai sandal, terus mengajak saya turun dari apartemen] untuk jalan-jalan. Ini dia, pikir saya, dia sangat ingin keluar, sedangkan saya sangat ingin anak saya terus belajar.

Makanya, setiap mau keluar rumah, ada ritual test atau ujian terhadap anak saya. Saya suruh ia menunjukan nama-nama yang saya minta, mulai dari hidung, mulut, mata, telinga, tangan, kaki, rambut, pantat, dan seterusnya. Saya juga minta ia mempraktekan bagaimana cara takbir sholat, berdo'a, dan seterusnya. Bahkan saya minta akting, saya berkata: "Aa ganteng gimana?" Secara spontan ia akan mengedip-ngedipkan mata secara genit. Dan terakhir, ia akan mempraktekan "Kiss bye" [ini bukan saya yg ngajar, tapi teman-teman mahasiswa], ia tempelkan tangan kanan di mulutnya, lalu sambil mengulurkan tangan ke depan, lalu memoyongkan bibir dan berkata: "Mmmuaaaaaaaaaaah!!" Dan kami pergi sembari ia melambaikan tangan ke isteri saya.

Al-hamdulillah, semua permintaan saya, anak saya turuti. Mengapa? Sebab, saya bilang: "Kalau mau buya ajak main, syaratnya belajar dulu ya. Jika enggak mau, maka enggak ada acara main!" Ini bukan sebuah ancaman, tapi saya ingin mengajarkan kepada anak saya, kalau keinginannya ingin kami turuti, maka penuhi dulu keinginan saya dan isteri saya. Di sinilah kepintaran kita bernegoisasi tertantang.

# Kiat 5: Beri contoh

Pada dasarnya, seorang anak penurut. Lalu, mengapa ia sering tidak mau menurut? Ada banyak kemungkinan, diantaranya, mungkin ia tidak faham apa yang kita perintahkan atau minta, atau ia tidak tahu cara melakukannya.

Oleh sebab itu, sehubungan dengan kemungkinan kedua, maka kita perlu memberikan contoh (uswah). Bahkan tanpa kita sadar, semua yang kita lakukan adalah dalam rangka memberi contoh. Saya perhatikan, apa yang dilakukan anak saya, sebenarnya ia ingin mempraktekan apa yang ia lihat. Mengapa ia sering memijit-mijit huruf di keyboard? Sebab, ia sering melihat saya mengetik. Mengapa ia memainkan telpon atau HP? Karena sering melihat saya dan isteri menerima telpon. Bahkan saat ini, anak saya, bermain seperti sedang memasak, memotong bumbu, dan seterusnya. Karena ia melihat bundanya masak.

Yang paling seru adalah tatkala saya dan isteri membuat "Susu Soya" [susu terbuat dari kedelai]. Susu soya yang dicampur pewarna hijau dengan rasa pandan pasta harus kami buang, gara-gara kreatifias anak saya. Tatkala kami ganti baju untuk silaturahmi ke teman yang baru saja melahirkan, tiba-tiba anak kami hilang dari kamar. Setelah kami cari-cari, ternyata ada di dapur sedang menuangkan minyak goreng bekas dan mengaduk-aduk susu soya itu. Ya allaaaaaaaah, ini anak, bikin gemesin aja!! Akhirnya, susu soya dua botol Aqua yang akan kami berikan untuk teman melahirkan harus kami buang di wastafel. Gimana, siap punya anak seperti ini?

Nah, cara agar anak kita menuruti apa yang kita minta, maka berilah contoh dulu. Insya Allah, kalau kita lakukan, maka ia akan mudah melakukannya. Contohnya, setiap saya sholat, anak saya ajak untuk sholat. Maka al-hamdulillah, ketika kami minta ia mempraktekan cara sholat, maka dengan mudah ia lakukan, meskipun umurnya belon dua tahun dan belum bicara.

# Kiat 6: Mengalahlah!

Ini dia cara yang mudah untuk mengajari anak kita agar jadi anak penurut: mengalahlah! Kita mengalah bukan kalah. Kita mengalah bukan menghilangkan keinginan kita. Kita mengalah bukan kita lemah atau tidak mampu. Kita mengalah untuk mengajarkan kepada anak kita untuk menghargai keinginan orang lain. Kita sedang mengajarkan untuk menuruti keinginannya, supaya nanti ia menuruti keinginan kita.

Tapi kiat ini --mengalahlah-- akan bisa kita lakukan, jika kita memang tidak sibuk. Masalah, jika anak kita ingin sesuatu sedangkan kita sedang ada kerjaan bahkan tugas penting. Anak saya acapkali memutuskan aktifitas saya menulis. Di saat ide saya lagi mengalir dan ingin segera saya tuliskan, eee... anak saya datang minta untuk saya temani, baik itu melihat-lihat buku gambarnya supaya saya menyebutkan nama-nama binatang yg ada dalam buku itu, atau ia minta saya membuat istana, menara, atau bentuk lain, dari balok-balok mainannya, atau ia minta saya menjadi kuda, sedangkan ia jadi jokinya, atau minta saya mendorong sepeda dan mobilnya, ah segalanya ia ingin saya temani. Nah, pilih mana, anak atau nulis? Biasanya saya ngalah, milih anak saya. Termasuk membuat tulisan ini, beberapa kali saya hentikan, karena anak saya mengajak main.

Mungkin Anda bertanya, di mana isteri saya? Isteri saya selain ngurus anak kedua saya, urusan rumah tangga, dan lain sebagainya, anak laki-laki saya ini, sangat lengket dengan saya. Mengapa? Karena sejak kecil sampai saat ini selalu bersama saya. Anak pertama saya lahir dengan operasi caesar. Minggu-minggu pertama, saya ngurus dua bayi: satu anak saya, satu isteri saya. Beberapa bulan kemudian, setiapkali anak saya minta digendong, apalagi keluar rumah, maka saya yang gendong, karena perut --bekas jahitan operasi-- sering sakit kalau isteri saya gendong anak atau mengangkat barang berat. Ditambah, sejak anak kedua lahir, anak pertama tidur barengan dengan saya. Akhirnya, segala sesuatu kebutuhan anak saya itu, sering minta ke saya, daripada kepada isteri saya.

# Kiat 7: Marah dengan bijak.

Setelah saya menceritakan segala ulah anak kami itu, mungkin Anda bertanya, apakah saya marah? Ya, saya marah, tapi saya tahan. Bahkan kalau isteri saya memarahi anak kami, saya tegur: "Bunda, jangan marahi Aa dong, kalau buku robek, Hp/telpon rusak, komputer rusak, dan hilang benda, itu masih bisa kita beli lagi, tapi kalau yang hilang potensi kreatif dan rusak hati anak kita, mau beli dimana?" Biasanya, kalau saya bilang seperti itu, isteri saya langsung mafhum.

Iya, bagi saya apa yang dilakukan oleh anak saya itu adalah bukti bahwa ia belajar dan berkembang. Ketika orang bilang itu sebuah kenakalan, maka saya tegur, itu bukan nakal, tapi kecerdasan, kreatifitas, dan usaha anak saya untuk mandiri. Bagi saya, tidak ada istilah nakal bagi anak di bawah tujuh tahun. Semuanya yang ia lakukan adalah benar, setidaknya benar menurut anak-anak. Benar-salah itu hanya berlaku bagi anak yang telah sempurna akalnya atau baligh. Oleh sebab itu, untuk apa marah?

Hanya saja, ada hal-hal yang memang mengharuskan saya marah. Bahkan marah ini wajib, sebab ini sebuah pembelajaran, sehingga anak tahu seperti apa marah itu. Jika kita tidak pernah marah, maka anak kita tidak pernah akan tahu, tentang marah. Ini berbahaya, bagi perkembangan pskologi anak kita.

Oleh sebab itu, saya dan isteri punya kesepakatan: 1) kami akan marah, kalau anak kami itu mengganggu adiknya (mencubit, menggigit, menginjak, dst); 2) ketika saya marah, maka isteri saya harus tampil sebagai pembela, sebaliknya, saat isteri saya marah saya harus membelanya; dan 3) untuk membedakan tingkat kemarahan kami gunakan diksi yang berbeda, untuk yang biasa makai kata "jangan", sedang "tidak boleh", dan besar "La ah!!" (Ini bahasa 'ammiyah Mesir).

Dengan kesepakatan itu, alhamdulillah, anak kami secara psikologis, tidak merasa tertekan, bahkan mungkin ia berpikir, bahwa marahnya kami bukan karena benci, tapi memang ada hal yang seharusnya tidak ia lakukan, sehingga ia tidak mau mengulanginya lagi. Ia juga merasakan bahwa kasih sayang kami sama, sebab ia tahu saya tidak selamanya memarahinya, tapi juga tidak selamanya membelanya, begitu juga dengan isteri saya. Untuk diksi --pilihan kata, ini untuk melatih kecerdasan anak kita dalam memahami perasaan kita. Ingat, bahasa adalah simbol perasaan. Biasanya, anak saya tidak akan nangis kalau kami bilang "jangan" dan "tidak boleh", tapi ia akan menangis sejadi-jadinya, kalau mendengar kata "La ah!"

Sulitnya, kalau anak kami sedang main di luar atu di rumah teman. Karena teman tidak tahu aturan main kami memarah anak kami, tiba-tiba teman saya mengatakan "la ah" untuk melarang, bukan marah, maka anak saya akan nangis. Setelah saya jelaskan kepada teman-teman saya, maka alhamdulillah, mereka mengerti dan tidak mau mengatakan "La ah" di depan anak saya.

Itulah 7 kita agar anak kita menuruti kemauan kita. Intinya, fahami kemauan dan turuti kemauan mereka dulu, baru nanti mereka mau menuruti kita. Mudah-mudahan pengalaman ini bermanfa'at dan memberikan inspirasi, motivasi, serta ilmu baru untuk mendidik anak-anak Anda. Kalau ada yang keliru, tolong luruskan. Jika ada kekurangan, tolong tambah. Satu hal yang perlu kita camkan adalah setiap anak unik, maka cara menghadapinya juga akan unik. Siapa tahu 7 kiat ini efektif bagi saya, belum tentu efektif untuk anak Anda. Maka berusalah menemukan cara-cara baru dalam menghadapi anak Anda. Oke?

Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlub

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar