Sabtu

Cara membangun rumah tangga yang harmonis

Membangun kehidupan rumah tangga yg harmonis memang menjadi dambaan. Namun tentu saja utk mencapai bukan persoalan mudah. Butuh kesiapan dlm banyak hal terutama dari sisi ilmu agama. Sesuatu yg mesti dipunyai seorang istri terlebih sang suami.
Tidak salah jika ada yg mengatakan bahwa menikah berarti menjalani hidup baru. Karena dlm kehidupan pasca pernikahan memang dijumpai banyak hal yg sebelum tdk didapatkan saat melajang. Tentu semua itu bisa dirasakan oleh mereka yg telah membangun mahligai rumah tangga.
Pernikahan juga merupakan kehidupan orang dewasa. Sebab banyak hal yg harus dihadapi dan diselesaikan dgn pikiran orang yg dewasa bukan dgn pikiran kanak-kanak. Masalah hubungan suami istri pendidikan anak ekonomi keluarga hubungan kemasyarakatan dan lain sebagai mau tdk mau akan hadir dlm kehidupan mereka yg telah berkeluarga.
Maka tdk salah pula bila dikatakan utk menikah itu butuh ilmu syar‘i baik pihak istri terlebih lagi pihak suami sebagai qawwam bagi keluarganya. Karena dgn ilmu yg disertai amalan akan tegak segala urusan dan akan lurus jalan kehidupan. Namun sangat disayangkan sisi yg satu ini sering luput dari persiapan dan sering terabaikan baik sebelum pernikahan terlebih lagi pasca pernikahan.
Pendidikan Keluarga
berfirman: IAllah
“Kaum laki2 adl qawwam1 bagi kaum wanita .”
telah berfirman: ISalah satu tugas suami sebagai qawwam adl memberikan pendidikan agama kepada istri dan anak-anak meluruskan mereka dari penyimpangan dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Karena Allah
“Wahai orang2 yg beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yg bahan bakar adl manusia dan batu.”
. Bila ia mendapati mereka berbuat maksiat segera dinasehati dan diperingatkan.I serta melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Seorang suami wajib mengajari keluarga tentang perkara yg di-fardhu-kan oleh Allah IMenjaga keluarga yg dimaksud dlm butiran ayat yg mulia ini adl dgn cara mendidik mengajari memerintahkan mereka dan membantu mereka utk bertakwa kepada Allah
 berkata: “Menjaga jiwa dari api neraka bisa dilakukan dgn mengharuskan jiwa tersebut utk berpegang dgn perintah Allah melaksanakan apa yg diperintahkan menjauhi apa yg dilarang dan bertaubat dari perkara yg mendatangkan murka dan adzab-Nya. Di samping itu menjaga istri dan anak-anak dilakukan dgn cara mendidik dan mengajari mereka serta memaksa mereka utk taat kepada perintah Allah. Seorang hamba tdk akan selamat kecuali bila ia menegakkan perkara Allah pada diri dan pada orang2 yg berada di bawah perwalian seperti istri anak-anak dan selain mereka.”tAsy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di
:rkepada Nabi-Nya  IAyat ini menunjukkan wajib suami mengajari anak-anak dan istri tentang perkara agama dan kebaikan serta adab yg dibutuhkan. Hal ini semisal dgn firman Allah
“Perintahkanlah keluargamu utk melaksanakan shalat dan bersabarlah dlm menegakkannya.”
“Berilah peringatan kepada karib kerabatmu yg terdekat.”
.IIni menunjukkan keluarga yg paling dekat dgn kita memiliki kelebihan dibanding yg lain dlm hal memperoleh pengajaran dan pengarahan utk taat kepada Allah
 bersabda:r adl seorang yg penyayang lagi lembut. Saat sepuluh malam hampir berlalu beliau menduga kami telah merindukan keluarga kami krn sekian lama berpisah dgn mereka. Beliau pun berta tentang keluarga kami mk cerita tentang mereka pun meluncur dari lisan kami. Setelah beliau r dan ketika itu kami adl anak-anak muda yg sebaya. Lalu kami tinggal bersama beliau di kota Madinah selama sepuluh malam. Kami mendapati beliau r mengabarkan: “Kami mendatangi Rasulullah zMalik Ibnul Huwairits
“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian tinggallah di tengah mereka dan ajari mereka serta perintahkanlah mereka.”
 memerintahkan kepada shahabat utk memberikan taklim kepada keluarga dan menyampaikan kepada mereka ilmu yg didapatkan saat bermajelis dgn seorang ‘alim.rDalam hadits di atas Nabi
Dengan penjelasan yg telah lewat dapat dipahami bahwa seorang suami/ kepala rumah tangga harus memiliki ilmu yg cukup utk mendidik anak istri mengarahkan mereka kepada kebenaran dan menjauhkan mereka dari penyimpangan.
Namun sangat disayangkan kenyataan yg kita lihat banyak kepala keluarga yg melalaikan hal ini. Yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan materi keluarga sehingga mereka tenggelam dlm perlombaan mengejar dunia sementara kebutuhan spiritual tdk masuk dlm hitungan. Anak dan istri mereka hanya dijejali dgn harta dunia bersenang-senang dengan namun bersamaan dgn itu mereka tdk mengerti tentang agama.
Paling tdk bila seorang suami tdk bisa mengajari keluarga mungkin krn kesibukan atau keterbatasan ilmu ia mencarikan pengajar agama utk anak istri atau mengajak istri ke majelis taklim menyediakan buku-buku agama kaset-kaset ceramah/ taklim sesuai dgn kemampuan dan menganjurkan keluarga utk membaca/ mendengarnya.
Mendidik Istri
Memasuki masa-masa awal pernikahan semesti seorang suami telah merencanakan pendidikan agama bagi istrinya. Minimal ia mempunyai pandangan ke arah sana. Dan sebelum menjadi seorang ayah semesti ia telah menyiapkan istri utk menjadi pendidik anak-anak kelak karena:
“Ibu adl madrasah bagi anak-anaknya” kata penyair Arab.
 yg membagi manusia menjadi tiga macam dlm mengurusi wanita:tPerlu juga diperhatikan bahwa mendapatkan pengajaran agama termasuk salah satu hak istri yg seharus ditunaikan oleh suami dan termasuk hak seorang wanita yg harus ditunaikan walinya. Namun pada praktek hak ini seringkali tdk terpenuhi sebagaimana mestinya. Sehingga tepat sekali ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i
Pertama: Mereka yg melepaskan wanita begitu saja sekehendak membiarkan bepergian jauh tanpa mahram bercampur baur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di tempat kerja seperti kantor dan di rumah sakit. Sehingga mengakibatkan rusak keadaan kaum muslimin.
 bahkan akan merusak keluarganya.IKedua: Mereka yg menyia-nyiakan wanita tanpa taklim membiarkan seperti binatang ternak sehingga ia tdk tahu sedikit pun kewajiban yg Allah bebankan padanya. Wanita seperti ini akan menjatuhkan diri kepada fitnah dan penyelisihan terhadap perintah-perintah Allah
:IKetiga: Mereka yg memberikan pengajaran agama kepada wanita sesuai dgn kandungan Al Qur’an dan As Sunnah krn melaksanakan perintah Allah
“Wahai orang2 yg beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yg bahan bakar adl manusia dan batu.”
 bersabda:rDan krn Rasulullah
“Setiap kalian adl pemimpin dan tiap kalian akan ditanya/ dimintai tanggung jawab tentang apa yg dipimpinnya.”2
 lalu ia berkata:r berkata: “Datang seorang wanita kepada Rasulullah z sendiri menyediakan waktu khusus utk mengajari para wanita. Abu Sa’id Al-Khudri rSeorang istri perlu diajari tentang perkara yg dibutuhkan dlm kehidupan sehari-hari siang dan malam tentang tauhid bahaya syirik maksiat dan penyakit-penyakit hati berikut pengobatannya. Rasulullah
“’Wahai Rasulullah! Kaum laki2 telah pergi membawa haditsmu mk berikanlah utk kami satu hari yg khusus di mana kami dapat mendatangimu utk belajar kepadamu dari ilmu yg Allah telah ajarkan padamu.’ Beliau pun bersabda: ‘Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu di tempat ini ’. Hingga mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yg dijanjikan utk mengambil ilmu dari beliau sesuai dgn apa yg diajarkan Allah kepada beliau.”
 mereka menjadi pendidik umat bersama dgn para shahabat yg lain semoga Allah meridhai mereka.r yg besar dlm asuhan madrasah yg mulia ini. Sepeninggal suami mereka Rasulullah x “lahir” dari madrasah nubuwwah dan mereka menuai bekal ilmu yg banyak terutama Ummul Mukminin Aisyah rBahkan istri-istri Rasulullah
Gambaran Pengajaran Seorang ‘Alim terhadap Keluarga Mereka
Para pendahulu kita yg shalih sangat mementingkan pendidikan agama bagi keluarga mereka. Di samping mereka berdakwah kepada umat di luar rumah mereka juga tdk melupakan orang2 yg berada dlm rumah mereka . Tidak seperti kebanyakan manusia pada hari ini yg sibuk dgn urusan mereka di luar rumah sehingga melalaikan pendidikan istrinya.
 tdk tahu cara menghilangkan najis dan sebagainya. Yang lbh parah istri atau anak tdk mengerti tentang tauhid dan syirik3. Bandingkan dgn apa yg ada pada salaf!rBahkan sangat disayangkan hal ini juga menimpa keluarga da‘i. Ia sibuk berdakwah kepada masyarakat sementara istri di rumah tdk mengerti tata cara shalat yg diajarkan oleh Nabi
. Beliau demikian bersemangat menyebarkan ilmu di tengah keluarga dan kerabat sebagaimana semangat menyampaikan ilmu kepada orang lain. Kesibukan beliau dlm dakwah di luar rumah dan dlm menulis ilmu tidaklah melalaikan beliau utk memberi taklim kepada keluarganya. Dari hasil pendidikan ini lahirlah dari keluarga beliau orang2 yg terkenal dlm ilmu khusus ilmu hadits seperti: saudara perempuan Sittir Rakb bintu ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-’Asqalani istri Uns bintu Al-Qadhi Karimuddin Abdul Karim bin ‘Abdil ‘Aziz putri Zain Khatun Farhah Fathimah ‘Aliyah dan Rabi`ah.tLihatlah keluarga Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani
 membesarkan dan mengasuh putri dlm buaian ilmu hingga ketika menikah suami mengatakan ia mendapati istri adl orang yg paling hapal dgn kitabullah paling mengilmui dan paling tahu tentang hak suami.tLihat pula bagaimana Sa’id Ibnul Musayyab
. Dengan bimbingan ayah ia dapat menghapal Al-Muwaththa’ karya sang Imam. Bila ada murid Al-Imam Malik membacakan Al-Muwaththa’ di hadapan beliau putri berdiri di belakang pintu mendengarkan bacaan tersebut. Hingga ketika ada kekeliruan dlm bacaan ia memberi isyarat kepada ayah dgn mengetuk pintu. mk ayah pun berkata kepada si pembaca: “Ulangi bacaanmu krn ada kekeliruan”.tDemikian pula kisah keilmuan putri Al-Imam Malik
. dlm sehari beliau menyempatkan waktu utk mengajari anak istri tentang perkara-perkara agama yg mereka butuhkan hingga mereka mapan dlm ilmu dan dapat memberi faedah kepada saudara mereka sesama muslimah dlm majelis yg mereka adakan atau dari karya tulis yg mereka hasilkan. Demikian kisah ulama kita dgn keluarga lalu di mana tempat kita bila dibanding dgn mereka ?tPerhatian pendahulu kita rahimahumullah terhadap pendidikan keluarga ternyata juga kita dapatkan dari ulama yg hidup di zaman kita ini seperti Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i
?Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Reactions:

0 comments:

Poskan Komentar